Selasa, 08 Maret 2011

Cerpen: Puisi Ingin Pulang

Puisi Ingin Pulang

--Kesatu--

Sebuah rak buku besar warna coklat dari kayu jati tanpa ukiran, warisan dari ibu yang dibelinya dari Pasar Klender, Jakarta Timur, kini aku jadikan gudang arsip. Rak buku yang berbentuk lemari itu, berukuran setinggi orang dewasa dan panjang tiga setengah meter itu sudah beberapa tahun lamanya tak pernah aku sentuh.

Dahulu ketika belum berkeluarga, sejak pertama kali ibuku membelikan lemari itu dengan mengajak naik mobil Kijang bak terbuka milik keluarga, biasanya aku tertib sekali dalam mengatur arsip-arsip penting maupun sekedar kliping berita di Koran, tujuannya ingin aku jadikan sebagai sebuah perpustakaan kecil, dari berbagai macam bidang ilmu yang menarik untuk dibaca.

Semua koleksi yang dulu aku banggakan itu kini terlihat berantakan, berbagai macam barang kecil mulai dari alat gambar, kalkulator hingga suku cadang komputer, banyak terselip di antara tumpukan kertas dan buku-buku. 
Jika dahulu semuanya aku pilah masing-masing jenis dengan rapi, sekarang semua itu sudah tidak jelas lagi urutan jenis isi buku dan majalahnya.

Ayo ayah… kapan harta kekayaanmu itu akan dirapikan?”, ujar istriku selalu memerintah dengan kata-kata manis, sebagaimana juga aku selalu berniat untuk meluangkan waktu merapikan lemari itu. Tapi berulang kali pula niat itu selalu gagal karena berbagai hal, dari urusan rutinitas pekerjaan hingga masalah kecil dalam keluarga.

Paling tidak butuh waktu setengah hari, akan aku habiskan untuk mengerjakan semua acara merapikan itu. Terbayang untuk mengerjakannya harus dengan mulut tertutup sapu tangan, seperti tokoh di film “Zoro” sedang beraksi.
Setumpuk besar sampah kertas bekas, hasil seleksi naskah yang sudah tidak berguna dan setengah tabung debu, hasil hisapan mesin vacum cleaner, barulah semuanya dapat tertata kembali dengan rapi.

Suatu ketika, saat mendapatkan waktu luang, ditambah pula  merasa gelisah karena tidak ada sesuatu yang dapat aku kerjakan di liburan ahir pekan. Maka rak buku besar yang sudah berdebu itu ahirnya dapat aku datangi untuk merapikannya. Terlaksana juga sebuah pekerjaan rumah yang memang sudah lama aku niatkan.

Semua buku, majalah lama, dokumen dan barang aku turunkan sekaligus. Satu buah dus karton besar aku siapkan untuk tempat sampah, dari barang-barang akan yang akan aku seleksi karena aku anggap sudah tidak penting lagi.
Terkadang aku ragu menyeleksi, apakah dokumen, buku atau majalah yang akan buang masihkah penting, setengah penting atau tidak penting lagi bagi kehidupan. Apalagi seandainya nanti anaku ada tugas dari sekolah untuk membuat kliping, tentunya akan kesulitan mencari naskah di jaman yang serba digital ini.

Dalam keasyikan mengerjakan pembersihan, aku bertanya dalam hati, mengapa begitu banyak debu menempel di lemari, padahal benda besar ini berada di ruangan kamar tertutup, dengan jendela yang memiliki sedikit ventilasi dari luar, menghadap ke taman yang rapat oleh berbagai pohon. Apakah debu itu terkumpul karena dibawa oleh binatang, sejenis laba-laba, atau karena proses penumpukan dari selama bertahun-tahun, dari debu terbang sewaktu menyapu lantai ruangan lain. Pertanyaan itu tidak pernah aku tahu jawabannya.

Beberapa kali bersin, membuatku harus mencuci hidung dan tangan disela-sela pekerjaan.
###
Saat sedang membereskan tumpukan dokumen, aku menemukan begitu banyak catatan yang aku sendiri lupa telah menulisnya. Juga majalah dari Majalah Tempo edisi lama, National Geografic hingga majalah filsafat dan kebudayaan yang sudah tidak terbit lagi. Ada kebahagiaan tersendiri melihat barang-barang lama ini, sehingga pekerjaan merapikan yang melelahkan ini punya kenikmatan tersendiri jika sudah mulai.
Begitu banyak kisah kehidupan terekam dalam arsip dokumen ini, photo-photo baik berwarna maupun hitam putih, begitu banyak aku miliki seakan menjadi saksi perjalanan kehidupan.

Tiba-tiba aku merasa tersentak oleh selembar kertas yang tersimpan dalam sebuah map tebal, terikat dengan selembar benang rami warna coklat, berisi selembar puisi yang membuatku tergetar ketika membacanya. Mungkin ketika sedang menulis puisi itu, hatiku begitu emosinal, penuh kesedihan atau mungkin juga ketika menulis puisi itu aku lakukan dengan deraian air mata.
Sebelumnya aku tidak begitu ingat, latar belakang peristiwa sehingga puisi itu ditulis, hanya bekas-bekas ballpoint yang begitu keras tertekan di atas kertas, terlihat ekspresi kesedihan. Kata-kata yang telah aku gunakanpun begitu menyentuh terekam, seandainya tidak ada tertulis tanggal dan nama pembuat yang berisi namaku sendiri, sungguh aku lupa telah membuat puisi semacam ini.

--kedua--

Memori ingatan langsung berputar cepat, seperti sebuah komputer sedang men”download” sebuah file besar yang sudah lama tidak digunakan. Pelan-pelan semuanya jadi teringat kembali, walau dengan potongan-potongan kisah pendukung yang sudah tidak akurat lagi detail-detailnya.

Dulu aku berniat untuk mengubur kisah tragis ini dalam ingatan, tapi sumpah itu hanyalah penghibur duka seorang pemuda. Segala sesuatu peristiwa kehidupan, selama kita hidup dengan pikiran waras, pastilah kita tetap mengingat peristiwa kehidupan yang telah kita lalui itu.

Puisi pendek ini berisi kisah tentang Ani, sebuah nama yang sangat sederhana dan umum di Indonesia, dari seorang gadis dengan nama lengkap Triani Wiryasari Louise. Jika sudah disebut secara lengkap namannya, barulah terlihat deretan kata yang mencerminkan bukan lagi nama kampung, dari seorang warga yang berasal dari desa di pedalaman.

Ani adalah seorang adik kelas sewaktu kuliah di Universitas Indonesia, ibunya seorang wanita peisir di pantai utara Jawa Tengah dan ayahnya berasal dari Sumatra Selatan yang masih memiliki keturunan darah eropa dari neneknya. 
Percampuran berbagai ras membuat penampilannya berbeda, dari ribuan gadis yang menjadi anak baru masuk kuliah ke Universitas Indonesia. Dia memiliki mata berwarna biru yang sangat indah, postur tubuh tinggi langsing dan kulit putih agak berbeda, dari kebanyakan mahasiswi yang ada di kampus.

Dalam penampilan, Ani selalu berusaha sama dengan semua orang, tidak ada yang tampak dia tonjolkan dalam warna atau model pakaian, semuanya sama layaknya seperti gadis lain. Tapi di mataku Ani tampil begitu berbeda sejak pertama kali aku melihatnya, ketika dia sedang berada dalam barisan mahasiswa baru yang di kumpulkan di halaman, untuk mengisi absensi masuk kegiatan orientasi akademik.

Ada tradisi di kalangan senior kampus, untuk mengincar salah seorang mahasiswi baru. Jabatanku sebagai ketua panitia senat mahasiswa, untuk penerimaan mahasiswa baru, kujadikan alat kekuasaan untuk memproklamasikan kepada teman-teman panitia, bahwa Ani adalah gadis favoritku. Teman yang lain berarti harap maklum tidak boleh ada yang mengganggu.

Mulailah hari itu aku memperhatikan Ani, dari ikatan rambut yang wajib dikuncir ke atas, cara berjalan, hingga sepatu yang dia kenakan aku perhatikan dengan seksama.
Heh, Jelek..!, siapa nama lengkap kamu?”, demikian gertakan pertama yang aku lakukan kepadanya, sebagai salah satu bentuk intimidasi senior kepada mahasiswa baru. Sebenarnya hal ini hanya boleh dilakukan oleh segelintir panitia yang sudah ditentukan, tapi tentunya aku punya otoritas untuk masuk tampil disemua sesi acara secara bebas, walau dibalik itu semua, sebenarnya aku memiliki niat terselubung dalam hati.
Wajah Ani langsung pucat, “Triani Wiryasari Louise, Kak”, dia menjawab dengan cepat nama lengkap sambil menghadapkan wajahnya. Nama panggilannya tentu sudah terpampang di dada, tapi aku ingin dia menyebutkan nama lengkapnya sendiri secara jelas. Selanjutnya giliran mahasiswi lain aku perlakukan sama, hal semacam itu adalah peristiwa yang paling aku suka, sewaktu mengingat saat aktif dalam kepanitiaan penerimaan mahasiswa baru.
Para senior bisa melakukan apa saja, dalam sebuah pengawasan tata tertib dan etika yang kami buat secara ketat, agar panitia tidak kebablasan, tapi aturan yang kami umumkan secara berulang kepada mahasiswa baru adalah “senior selalu benar, jika senior salah maka tolong jangan dilaporkan kepada siapapun, titik”.
Setelah aku proklamasikan bahwa Ani adalah gadis favoritku, semua teman pria secara tidak tertulis sepakat untuk tidak mendekatinya, bahkan mendukung memberikan informasi tentang dia.
Kami selalu membicarakan tentang gadis favorit masing-masing, ketika berkumpul di sudut ruang auditorium sambil mengawasi barisan anak baru, dari sudut pandang bahasa lelaki.
Semua data yang diberikan Ani dalam pengisian formulir biodata mahasiswa baru aku dapatkan, dari tangggal lahir, nama keluarga, alamat rumah, asal sekolah, hobi dan segala macam tentangnya, langsung aku masukan dalam ingatan. Aku sudah mulai maju selangkah untuk mendekat kepada Ani.
Di antara sela-sela waktu istirahat makan siang, ketika masa orientasi studi mahasiswa berlangsung, aku berusaha mengakrabi Ani sedikit demi sedikit, tentunya dalam bahasa yang lebih bersahabat dan agak sedikit tebar pesona dalam penampilan.
Keceriaan mulai terlihat di wajahnya, saat itu Ani sudah merasa tidak lagi dalam posisi terintimidasi. Derai tertawa lepas mulai terdengar dalam pembicaraannya. Ketika aku berusaha untuk mengorek informasi lebih jauh tentangnya, apakah dia sudah punya pacar atau belum, dia memberi sebuah jawaban misteri yang sangat jenaka tentang statusnya.
Ya bisa punya, bisa juga tidak, pokoknya rahasia deh…”. Sambil tertawa dengan wajah usil. Hal itu yang membuatku semakin penasaran, seakan dia sedang mengeluarkan strategi “jinak-jinak merpati”. Langsung pusing rasanya kepalaku dalam bersikap optimis kepadanya.

Setiap hari hatiku berbunga-bunga karena kehadiran Ani di kampus, saat itu aku laksana menjadi seekor burung merak jantan yang berusaha menampilkan bulu-bulu terindahnya, di depan seekor merak betina. Tentang berhasil atau tidak dalam usahaku mendekati Ani, itu adalah masalah nanti, toh dalam prinsipku adalah lebih baik mencoba walau gagal, daripada tidak berbuat sama sekali.

Sampai ahir masa orientasi studi mahasiswa baru, aku terus mengkuti gerak langkah Ani di kampus, secara pelan-pelan, tentunya aku tidak mau terburu-buru dalam melangkah dan juga tetap menjaga wibawa, sebagai seorang ketua panitia, agar tidak dianggap sebagai pemuda “kapal keruk” oleh teman-teman, istilah ini berkonotasi serakah dalam memikat gadis-gadis baru di kampus.
Kesibukan yang luar biasa dalam kepanitiaan, membuatku tidak banyak waktu untuk meluangkan perhatian kepada Ani.

--ketiga—
Belum sampai kebahagiaan mencapai puncaknya, menikmati hingar bingar bersama mahasiswa baru. Satu hari setelah selesai dalam kepanitiaan orientasi studi, aku harus ikut berangkat ikut dalam ekspedisi penelitian ke Taman Nasional Kerinci Seblat, di daerah Jambi dan Bengkulu. Sebuah hutan belantara yang relatif masih perawan serta dihuni oleh binatang dan tanaman langka.

Rasanya berat sekali sewaktu akan berangkat bersama tim ekspedisi penelitian itu, tapi apa boleh buat, kegiatan ini telah direncanakan begitu lama, telah didukung oleh banyak sponsor dari pemerintah dan perusahaan swasta, jadi sangat tidak mungkin untuk menolaknya. Ahirnya aku berangkat juga.
###
Perjalanan dari Jakarta menuju Sumatra yang sengaja menggunakan bus kelas ekonomi agar dapat menekan biaya, sungguh sebuah perjalanan yang sangat melelahkan. Apalagi beberapa minggu terahir aku kerja keras, bergadang hingga tengah malam, untuk menyiapkan kegiatan penerimaan mahasiswa baru. Rontok rasanya tulang-tulang, tapi badan tetap aku paksakan, karena belum tentu kesempatan semacam ini dapat aku mengikutinya di waktu yang lain. Bagiku waktu itu, ekspedisi ini adalah kesempatan emas dalam menimba pengalaman ilmiah di lapangan.
Dari Jakarta melewati jalan tol menuju pelabuhan Merak, Banten. Menyebrang dengan kapal feri tua renta yang usianya sama dengan umurku, menuju Lampung terus melewati lintas Sumatera dan turun dari bus di Sarolangun Bangko yang disebut Sarko. Sampailah kami di tempat pemberhentian pertama, ketika hari menjelang tengah malam.
Kemudian kami menyewa minibus kecil menuju Jangkat, desa terdekat dengan Taman Nasional Kerinci Seblat. Perjalanan lanjutan melewati perkebunan dan sebagian hutan, jalannya berkelok-kelok naik turun bukit. Sesekali menemui kubangan lumpur, karena jalannya masih tanah merah belum di aspal. Kamipun bahu membahu dengan awak bus, mendorong mobil agar dapat melewati kubangan lumpur tadi. Sopir mengemudikan dengan kecepatan tinggi di jalan yang gelap gulita itu, beberapa kali menurutku mobil agak lepas kendali, melewati jalan licin, tapi awak bus tampak tenang-tenang saja pada jalanan yang sangat dihapalnya. Sampailah kami pagi hari di tujuan, tepatnya sekitar pukul enam.
Penduduk menyambut kami dengan ramah, kemudian aku bergegas menemani Farid, sang ketua panitia, untuk beramah tamah ke rumah bapak kepala desa setempat. Tujuannya mohon ijin agar diperbolehkan mendirikan kemah, di sebuah tanah kosong untuk menginap semalam, sebelum kami melanjutkan perjalanan ke hutan esok paginya.
Seharusnya kami langsung masuk hutan setelah sampai di Desa Jangkat, tapi perjalanan kami terhambat karena ada dua buah ransel yang diletakan di atas kabin minibus jatuh terlempar, ketika sedang dalam perjalanan menuju desa itu. Mungkin ikatannya lepas, karena sepanjang jalan naik turun bukit, jalannya penuh lubang dan kubangan air yang menimbulkan goncangan keras.

Dalam pembicaraan sewaktu memohon ijin tempat, pak kepala desa sangat berharap agar kami bermalam di rumahnya saja. Bagi beliau kedatangan kami adalah sebuah kehormatan. “ Adik-adik tidur nanti malam di rumah saya dan rumah warga di sini saja, tidak usah di lapangan sana, takut hujan dan banyak binatang buas”.
Kami menolaknya dengan sopan agar tidak merepotkan, padahal sebenarnya justru hal itu yang sangat kami harapkan sebagai sebuah rejeki. Dalam bahasa yang tersirat, ahirnya kami berusaha menerima tawaran bapak kepala desa. Begitulah sopan santun orang timur, semua diungkapkan secara samar, dalam sebuah adat istiadat yang disampaikan dan dijawab dengan menggunakan bahasa yang tersirat.

Hutan belantara dengan pohon-pohon raksasa dan kabut menggantung di antara pohon, telah terbentang di hadapanku. Beberapa hari ke depan aku akan berada dalam dekapannya. Pemandangan yang sangat indah ini seperti menyambut kedatangan kami, langit terlihat cerah, udara sejuk dan sungai dangkal berbatu mengalir bersih, dalam latar belakang panorama hutan hujan tropis yang sangat lebat.

Entah ada bahaya apa yang mengancam di dalam keindahannya. Pastinya hutan Kerinci Seblat adalah habitat asli Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang masih cukup banyak jumlahnya. Binatang sanggup menarik mangsa seekor kerbau dan menggigit batok kepala manusia, seperti kita sedang memakan sebuah apel bulat.

Saking keramatnya sang harimau itu, penduduk setempat menyebut dengan nama “nenek”, mereka tidak berani untuk menyebut hewan tersebut harimau. Ada legenda manusia harimau yang sangat diyakini oleh sebagian masyarakat Sumatera. Bahkan ada mitos lain, biasanya jika ada orang asing datang ke desa itu, akan terjadi hujan deras yang disertai petir, entah kenapa hal itu tidak terjadi sewaktu kedatangan kami. Entah kami memang berniat baik atau kami tidak dianggap asing karena berasal dari nenek moyang yang sama.

Memasuki malam pertama di daerah yang tidak ada cahaya lampu listrik, suara kendaraan bermotor dan bunyi peralatan elektronik, membuat aku merasa begitu berbeda dari keseharian di kota. Pergerakan waktu seakan berlangsung begitu lambat. Timbulah rasa sepi yang sangat dalam, pikiran menerawang membangkitkan rasa rindu kepada rumah, kampus dan seseorang. Terbayanglah sosok Ani hadir dalam lamunan ini.

Sambil merebahkan badan di lantai kayu, dari rumah panggung setinggi dua meter milik kepala desa, aku mulai berkata-kata sendiri dalam hati untuk mengusir kesepian, “Ani, seandainya kau hadir ikut ke sini, tentunya aku akan merasa nyaman. Kita bisa bercanda dan bicara lebih banyak tentang isi hati masing-masing. Seandainya kau hadir di sini, tentunya kau akan merasakan malam yang begitu sepi, di antara bunyi hewan-hewan kecil berbunyi untuk mencari pasangannya dan semilir angin dari hutan yang menggesekan batang bambu sehingga menimbulkan irama tanpa rekayasa dari alam”.
Ketika aku mendengar dengkur napas teman yang sudah terlelap tak bergerak. Mataku masih terbuka di ruang tengah rumah itu. Lilin yang dinyalakan di atas piring keramik agar tidak membakar lantai kayu, sudah tinggal seperempatnya, menunggu saat terahir menuju gelap gulita.

Aku masih meneruskan pembicaraan imajiner dengan Ani dari dalam hati:
 Dear Ani.
Seandainya kau hadir di sini, kau baru akan merasakan tidur bersamaku, beralaskan tikar pandan dengan aroma khasnya, mungkin tikar ini masih baru atau sengaja disimpan oleh pak kepala desa, hanya untuk tamu-tamu terhormatnya.

Di rumah ini udara dingin yang alami, menyeruak dari bawah tempat kita tidur. Kau tidak akan mendapatkan ini hal ini di rumahmu, dari penyejuk ruangan yang hanya bekerja sebagai penyaring udara kotor, dari knalpot kendaraan sedang berlalu lalang dan sisa napas jutaan orang yang berada di sekitarmu”.

Aku menarik napas dalam-dalam, menikmati segarnya udara malam yang hanya sedang dihirup oleh beberapa orang dan pohon-pohon. Dalam kenyaman pelukan malam di tengah hutan, ahirnya terlelap dalam keheningan serta lilin mencair dalam redup cahayanya yang terahir.
###
Esoknya aku terbangun karena aroma masakan yang sangat dikenali oleh hidung, yaitu ayam goreng. Rupanya ibu kepala desa sedang sibuk di dapurnya, dalam mengolah ayam goreng yang aku yakin ditujukan buat kami.

Padahal kami hanyalah mahasiswa pas-pasan baik secara ekonomi maupun prestasi akademis, tapi bagi keluarga pak kepala desa kami menjadi tamu kehormatan dari Jakarta. Mungkin pak kepala menganggap hebat kami orang dari ibukota, sementara kami sendiri memimpikan memiliki rumah rumah seperti miliknya yang terbuat dari papan tebal dan tiang-tiang kokoh. Konon rumah besar itu hanya dari pembelahan satu batang pohon, “rumah ini dibangun hanya dari satu batang surian”, demikian menurut pak kepala desa yang sudah aku lupa namanya. Aku tidak dapat membayangkan besarnya pohon yang dimaksud pak kepala desa, tapi paling tidak dibutuhkan tiga truk besar balok kayu dan papan untuk membuat rumah semacam itu.

Nasi dan ayam goreng dihidangkan, sebuah bakul besar dari bambu berisi nasi panas, lebih dari cukup dari porsi makan kebiasaan kami, sambal terbuat dari cabai yang tumbuh secara liar di pinggiran kebun , lalapnya terong bulat hijau segar memang lalapan kesukaanku. Pak kepala desa dan ibu mempersilahkan kami untuk menghabiskan nasi dan semua lauk, “di sini kami tidak membeli beras, sayur dan ayam, ayo silakan habiskan semuanya”.
 Aku terbesit cuma satu kata dalam hati: “mantap..!”.

Secara ekonomi pak kepala desa cukup mapan untuk ukuran desanya. Penghasilan dari penjualan kulit pohon kayu manis (Cinanomum iners), seluas lima puluh hektar miliknya, harganya cukup mahal. Kebutuhan dapur semuanya sudah cukup didapat dari alam, lainnya cuma bermodal garam dan korek api.

Selesai makan dan beramah tamah, aku berbicara atas nama teman-teman untuk mengucapkan terima kasih, atas segala sambutan dan jamuan tuan rumah. Kami harus pamit untuk menempuh perjalanan yang sangat jauh, sekitar dua minggu di dalam hutan.
Target kami di hari pertama itu jaraknya sekitar sepuluh kilometer. Masih mengikuti sisa-sisa jalan setapak bekas penduduk masuk ke hutan. Sambil bersalam-salaman aku menyelipkan sejumlah uang untuk ibu kepala desa, dia berusaha menolaknya tapi aku genggamkan keras-keras agar dia menerimanya. Aku katakan sekedar buat membeli “kapur sirih”, ahirnya ibu kepala desa menerimanya. 
Dalam perjalanan di kilometer pertama, aku laporkan sambil bergurau kepada teman-teman, bahwa uang itu cukup untuk membeli kapur dan daun sirih sebanyak satu gerobak. Laporanku disambut oleh gelak tawa.

Siangnya kami beristirahat untuk makan siang yang dekat dengan sumber air. Aku merebahkan badan sambil menunggu makanan yang dimasak. Aku belum mendapat jadwal menjadi juru masak, sehingga lebih leluasa untuk merebahkan badan berbantalkan ransel besar.

Sepasang kupu-kupu putih melintas terbang dekat denganku, hinggap kesana-kemari di bebatuan sungai kecil selebar satu meter, ingatku langsung menerawang kepada Ani, Triani Widyasari Loise. Wow… Romantis sekali gerakan terbang dua ekor kupu-kupu itu, sesekali hinggap di atas batu, pindah ke ranting semak, kembali ke batu dan terbang lagi sambil diikuti oleh pasangannnya. Kupu-kupu itu tidak perduli terhadap orang-orang yang berada di sekitarnya. Akrobat itu berlangsung sekitar sepuluh menit, kemudian menjauh menghilang diantara celah-celah pohon.

Hari-hari selanjutnya tak terasa aku sudah seminggu berada di dalam hutan. Setiap hari menerobos membuka jalur, sesuai rute yang telah direncanakan. Kerja kami uma mencatat, mendokumentasikan dan mengambil sampel jika dianggap perlu. Malamnya kami diskusi di depan api unggun, jika cuaca tidak hujan. Kemudian merencanakan perjalanan esok hari, jam 21 tepat semuanya wajib masuk tenda dan tidur agar kondisi badan menjadi pulih bertenaga.

Tidur dalam sebuah tenda plastik sempit bertiga dengan teman penelitian, yaitu Farid dan Imam, terasa begitu pengap. Beralaskan terpal di atas serasah daun busuk tanah hutan hujan tropis, tentulah sangat tidak nyaman, apalagi kantong tempat tidur sebagai penghangat dan menghindari serangan binatang, sudah terasa agak lebab, karena belum pernah dijemur selama seminggu. Kaki terasa pegal-pegal, mataku sulit rasanya terpejam, hayalanku hanya tertuju kepada Ani, gadis pujaanku.
Aku mulai berdialog lagi dalam hati kepada Ani, “seandainya kau hadir di sini, kau akan merasakan hidup dalam dekapan alam. Berselimutkan semak dan kewaspadaan terhadap serangan binatang buas. Langitpun tidak terlihat siang dan malam, karena terhalang kanopi daun dari pohon besar yang sangat tinggi. Ani, seandainya kau hadir di sini, kau akan mendengar kepak burung-burung raksasa yang berada di atas pohon sana”.
Rasanya senang sekali sewaktu mendengar bunyi menggelegar pesawat terbang jumbo jet lewat melintas, padahal pada ketinggian puluhan ribu kaki dan tidak ada hubungannya dengan kita, tapi itulah suasana malam di tengah hutan, sepi dan mencekam, kepasrahan hanya kita serahkan kepada Tuhan.
Dalam kegelapan yang cuma disinari oleh bara sisa api unggun, aku begitu rindu kepada Ani. Entah inikah yang disebut jatuh cinta atau memang sekedar perasaan biasa seorang pemuda yang terpanah asmara oleh lawan jenisnya.

Perasaan yang sama selalu mengisi khayalanku setiap malam. Aku ingin secepatnya kembali ke kampus, bertemu dengan Ani, ingin bercerita tentang suka duka perjalananku di Taman Nasional Kerinci Seblat, mengisahkan harimau liar yang kami lihat sedang bergerombol di lembah bukit yang kami naiki, minum dari bambu besar (Dendrocalamus gigantheus) yang berisi satu liter air segar di tiap ruas batangnya dan berphoto-photo sejenak di dekat bunga bangkai, Amorpophalus titanum arnoldi yang ukurannya lebih tinggi dari badan kita.
Jika memang berkat keajaiban bunga bangkai raksasa, bunga terbesar sedunia itu, sesuai dengan pengertian namanya. Amor berarti dewa cinta dan phallus mengacu kepada alat kelamin seorang lelaki. Maka aku adalah seorang lelaki yang sedang kerasukan aroma cinta dari seorang gadis, membuatku mabuk kepayang siang malam karena pesonanya.
Di hari-hari terahir perjalanan, rasanya lama sekali waktu untuk keluar dari dalam hutan belantara, beberapa teman kakinya mulai lecet berat, infeksi kulit bahkan ada yang kuku kakinya sampai terlepas.
Kebosanan, rasa rindu rumah dan segala macamnya berbaur menjadi satu. Itulah romantika petualangan ke dalam hutan, kondisi semacam itu membentuk pribadi seseorang untuk gigih, berani, cinta alam dan setia kawan. Namun jika sudah beberapa bulan berada kembali di rumah, maka kerinduan untuk berpetualang, akan selalu menimbulkan perasaan ketagihan kembali mengunjungi hutan yang pernah kita datangi.
Ahirnya berhasil juga kami keluar dari hutan belantara. Setelah menemukan ladang pertanian dan pemandangan atap rumah-rumah nun jauh di sana, semua terpancing berjalan cepat setengah berlari.
Beberapa teman ada yang sampai bersujud, ketika mencium wangi bau aspal jalan raya, karena sudah setengah bulan tidak mencium bau aroma kota.
Setiap rumah makan kecil langsung diserbu habis-habisan, semuanya kalap menikmati makananan apapun. Segala jenis makanan dimakan tiada henti, walau perut sudah sangat kenyang. “Jangankan makanannya, jika perlu penunggu warungnyapun akan dimakan seandainya dijual”, demikian kelakar Faried yang membuat teman-teman tertawa dengan riang gembira.
Kami disambut oleh teman-teman dari World Wild Foundation (WWF) yang sudah kami beritahukan sebelumnya, juga pejabat Pemerintah Daerah Kabupaten Sungai Penuh.
Pulang menuju Jakarta adalah saat-saat yang sangat dinantikan. Ada keinginan seandainya punya banyak uang, ingin rasanya menyewa pesawat, bukan menumpang bus ekonomi karatan yang sopirnya selalu menyetel kaset, dengan sound system buruk, melantunkan lagu dangdut penyanyi daerah, secara terus diputar berulang-ulang, sampai muak rasanya telinga mendengarkan.

Asap rokok mengepul bebas dalam bus tua tanpa penyejuk udara dan jendela samping yang terbuka lebar sehingga angin menerpa keras dari arah samping.
Berangkat pulang dari kota Lempur di Sungai Penuh, melewati jalan di pegunungan Bukit Barisan, membuat makanan yang sudah berada di dalam perutku serasa ingin dikeluarkan. Kepalaku menjadi terasa berat dan pusing luar biasa. Aku berusaha bertahan dengan tidur sebisaku.
Setelah dua hari perjalanan melelahkan, akhirnya aku sampai juga pulang kerumah.

Esok paginya, walau badan lelah, tapi rasanya bersemangat sekali untuk pergi ke kampus. Kaki lecet, badan gosong dan lengan penuh luka tergores duri rotan di hutan, rasanya terhapus oleh rasa rindu yang membara kepada seorang gadis. Maklum hubungan komunikasi saat itu begitu terbatas, karena telephon genggam, SMS dan email, belum ada sama sekali.
Suasana penuh gelak tawa di kampus bersama teman-teman, mulai menggema. Mereka semua ingin mendengar cerita dari perjalanan, ucapan selamatpun mengalir, dari ucapan biasa hingga ucapan selamat karena tidak diterkam harimau sumatra, juga segudang cerita lucu selama perjalanan yang sengaja dilebih-lebihkan untuk guyonan, semua itu membuat rasa lelah hilang seketika.

Walau demikian tidak ada teman-temanku yang tahu, bahwa pandanganku terus mencari-cari seseorang yang sedang aku tuju semenjak berangkat dari rumah. Rombongan demi rombongan mahasiswa baru habis keluar dari ruang kuliah aku perhatikan satu-persatu. Sampai lewat siang hari selama berada dikampus, tidak sekalipun aku melihat kehadiran Ani. Sungguh kecewa atas segala usahaku seharian untuk berusaha menemui atau sekedar melihatnya.

Esoknya aku datang lebih pagi lagi, bahkan sarapan pun aku lakukan dikantin kampus. Hilir mudik orang-orang yang baru datang lewat terus menerus, beberapa di antaranya menyapaku, tapi sebenarnya mataku sedang mencari-cari kedatangan seorang mahasiswi baru yang begitu kurindukan.

Alhamdulillah akhirnya dia muncul juga, dialah Ani, tampak berjalan cepat dari arah gerbang pintu masuk, dengan kaos casual, celana jeans dan sepatu coklat, juga bedak tipis dan rambut agak basah. Aku menatapnya dari kejauhan sambil duduk di kursi panjang sendirian hingga mendekat, dia tampaknya tahu sedang aku perhatikan. “Hay Ni”, aku menyapanya, dia pun hanya menyapa. “Hallo mas”, menyapa dengan sedikit senyum tanpa menghentikan langkah cepatnya. “duluan ya, aku kuliah pagi nih…” Rupanya hari ini dia kuliah pagi jam 7.15 dan waktu masuk tinggal 10 menit lagi. Aku memakluminya, karena mahasiswa baru biasanya takut sekali jika datang terlambat, apalagi menghadapi dosen yang begitu tepat waktu.

Jadwal kuliahku sendiri jam 9.00 WIB, tapi karena hanya berisi evaluasi penelitian dan aku tahu semua mahasiswanya juga sama-sama capek, maka aku yakin ada keringanan. Biasanya jika perlu cukup di ruang dosen atau bahkan didiskusikan di kantin bersama dosen dan teman-teman sambil makanan terhidang.
Selanjutnya sungguh aku beruntung hari ini, sampai jam9.30 dosen belum datang dan dapat bocoran informasi bahwa diskusi evaluasi dibatalkan yang penting semua laporan deskriptip dan photografi dikumpulkan. Betapa senang rasanya, jadi aku bisa konsentrasi lebih intensif pada gadis yang sedang aku kejar.

Seribu akal perangkap dan strategi sedang aku olah di dalam kepala, sambil menunggu Ani keluar dari kelasnya.
Ketika dia muncul bergerombol bersama teman-temannya, aku berpikir keras bagaimana caranya bisa masuk mengobrol sok akrab ke dalam kelompok mereka. Aku perhatikan dari kejauhan Ani masih bersama sekitar sepuluh orang temannya, duduk di bangku taman, di bawah sebuah pohon ketapang besar yang memayunginya.
Entah apa yang sedang mereka diskusikan, kelihatannya seeru sekali. Lama kelamaan satu dua orang pulang dan memisahkan diri. Sepertinya Ani masih asyik bergabung dengan kelompoknya. Setengah jam kemudian Ani pun bergerak pergi meninggalkan teman-temannya.

Aku terus memperhatikan arah gerakan Ani, dia mengarah menuju kantin sendirian, memesan makanan dan minuman. Dia memilih tempat duduk di pinggir, mungkin karena ada rasa takut sebagai mahasiswa baru terhadap penghuni kantin yang rata-rata mahasiswa kawakan.
Keinginan untuk mendekatinya aku tahan sekuat-kuatnya. Ketika beberapa menit dia mulai menikmati makanan sambil membaca majalah wanita, aku berjalan ke arah kantin dengan santai, seakan tidak tahu dikantin itu tidak ada Ani.
Hai Louise”, aku menyapanya sambil membawa sebotol teh yang baru saja aku beli.
Sontak Ani tertawa kecil, “jarang-jarang mas, ada orang memanggil saya dengan nama itu, kecuali terkadang bapak saya sewaktu saya masih kecil”, demikan Ani menjawab dengan wajah yang sangat ceria.
Aku duduk dibangku dekatnya, diapun tampak tidak keberatan ada yang menemani. Dalam hati aku bergumam, “ Aku menang satu poin nih”.

Maka aku pun berusaha lebih akrab, dengan menanyakan habis kuliah apa pagi ini dan pertanyaan umum yang lain. Pembicaraan kami jadi begitu lancar mengalir, tanpa perduli beberapa teman curi pandang, memperhatikan kami yang sedang asyik duduk berdua.
Ketika dia menanyakan banyak garis-garis luka kecil ditanganku, akibat terkena duri pohon rotan yang begitu rapat di hutan Sumatra, mulailah aku bicara panjang lebar, tentang penelitian yang baru saja aku lakukan. Tentunya aku hanya mengisahkan cerita heroik yang mengundang selera anak muda tentang alam dan petualangan.

Mantap…”, aku bicara dalam hati, ketika Ani menatap dengan mata berbinar, mendengar uraian ceritaku selama di hutan Kerinci Seblat, dia terlihat penuh antusias dan penuh rasa ingin tahu.

Lega sekali perasaan pada hari ini, aku merasa mendapat sebuah poin besar, dari sebuah mimpi yang sangat aku idamkan. Duduk bersama sebentar dan berusaha mengekspresikan diri didepan seseorang gadis pujaan, membuat aku merasa seribu tahun mabuk dalam kebahagiaan. Terasa senyum-senyum sendiri di dalam hati. Satu rasa syukur aku ucapakan: Terima kasih Tuhan.

Hari demi hari aku berusaha menahan diri, untuk terlalu agresif terhadap Ani. Aku ingin melihat perkembangan lebih jauh sosok Ani sebenarnya. Kulihat dalam pandangan yang samar, juga banyak mahasiswa lain yang punya perhatian khusus kepadanya. Anipun sepertinya membatasi diri kepada semuanya, menganggap mereka semua hanya sebagai teman biasa.
Akupun berusaha, bersikap sebagai lelaki sejati yang berusaha mencari pasangan wanita dengan sabar dan gentleman. Padahal hati ini begitu bergejolak untuk dapat memilikinya secepatnya, seperti seekor harimau yang bergerak pelan-pelan di antara semak, ketika hendak menerkam mangsanya.

Dengan cara pemikiran positif, Ani aku jadikan sebagai penyemangat belajar, sehingga aku rajin datang lebih pagi dan ingin selalu datang ke kampus setiap hari, walau tidak ada jadwal kuliah, serta kegiatan ekstakurikuler organisasi kemahasiswaan.
Aku mulai menginvestigasi secara terselubung satu persatu orang-orang yang berusaha mendekati Ani. Dari Farel, Rifki dan Adam. Semuanya aku anggap wajar-wajar saja, karena aku percaya pada proses seleksi alam, bahwa siapa yang terbaik atau cocok, dialah yang akan menjadi pemenang.

Semakin lama aku semakin tertarik kepada Ani. Dia seorang gadis ceria, modis, energik dan cerdas. Tinggal di daerah Kalibata, Jakarta selatan dan ayahnya seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI. Mungkin itulah yang membuat Ani nampak berkarakter karena ditopang oleh keluarga terpelajar yang mapan.

Selanjutnya sudah berhasil sekitar empat sampai lima kali, aku berusaha mendekati dengan berusaha mengobrol dengannya. Kami relatif semakin akrab, tapi aku berusaha memendam sedalam-dalamnya, untuk mengungkapkan segala isi hati yang aku rasakan. Aku ingin semuanya berproses dengan pelan, mengalir dengan tenang seperti sebuah sungai dalam, sebelum mengambil langkah dan keputusan berjangka panjang.
Ingin rasanya aku mencari saat yang tepat, untuk mengungkapkan perasaan ini kepada Ani, tapi aku punya harga diri, juga aku takut hal yang terburuk dalam bentuk penolakan terjadi. Apalagi gadis secantik dia, tentunya mudah untuk memiliki kekasih, karena banyak pemuda antri berminat kepadanya.

--keempat--

Pada pertengahan semester, kampus mengadakan studi banding ke universitas lain yang berada di Bandung. Rasanya aku berbunga-bunga menunggu datangnya kegiatan tersebut.

Aku berkeyakinan Ani akan ikut, menjadi peserta yang akan membawa rombongan ke Bandung itu. Aku mencari informasi dan peluang, untuk dapat turut serta dalam kegiatan itu. Sebenarnya aku pernah mengikuti kegiatan di tahun sebelumnya, tapi kali ini aku begitu bersemangat, mencari segala macam cara untuk dapat menjadi peserta.
Briefing peserta yang disampaikan oleh panitia selalu aku ikuti, tujuanku bukanlah untuk mengetahui jadwal kegiatan atau rencana teknisnya, namun aku hanya ingin satu menit saja dapat melihat Ani Hal itu membuat segala kerinduanku kepadanya pada hari itu terhapus.

Pada setiap kesempatan dan forum terbuka, aku selalu tampil dengan sikap acuh tak acuh kepada Ani. Aku perlihatkan bahwa dia bukan seseorang yang istimewa, padahal di balik itu semua, ada hasrat begitu besar yang bergejolak di dalam jiwa, ”ada udang dibalik batu” yang terselip dalam hatiku.

Hari istimewa yang ditunggu akhirnya tiba. Satu persatu peserta mahasiswa datang berkumpul di kampus pagi. Bus yang akan mengangkut telah menunggu sejak jam lima pagi kini berada di ujung fakultas. Aku datang lebih awal dibandingkan yang lain, akhirnya setelah semakin banyak yang datang Ani muncul juga, dengan barang bawaaanny dan diantar oleh sopir pribadi orang tuanya. Aku berusaha mengarahkan tempat duduk untuk dapat berdekatan dengan Ani, tapi dia sudah janjian untuk duduk bersama teman-teman wanita seangkatannya. Tapi tidak apalah, aku mengalah juga untuk berkumpul dengan para mahasiswa senior di kursi bagian belakang bus.
Cukup riuh suasana celoteh mahasiswa di dalam bus sebelum berangkat. Sesekali aku mencuri perhatian untuk dapat melihat lokasi keberadaan Ani. Dia juga terlihat ceria dan sedang berkelakar dengan teman-temannya. Senang sekali rasanya melihat Ani dalam keadaan riang gembira, hal itu membuatku semakin terpesona melihat penampilannya.
Bus yang membawa rombongan mulai berangkat meninggalkan kampus. Suasana dalam bus tetap riuh dan ramai oleh gelak tawa serta saling mencela untuk menciptakan kelucuan. Ada yang mengeluarkan pertanyaan lucu dan ada pula yang membuat pantun lucu. Jika pertanyaan lucu susah dijawab, teman-teman yang lain mencela jawaban dengan slogan “halah,..nenek-nenek peot yang tidak memakai celana dalam juga tahu”, maka tertawa pun semakin ramai terdengar menggelegar.
Bus yang berkapasitas 45 kursi diisi oleh peserta yang berjumlah 50 orang, sehingga lima orang terpaksa berdiri sukarela atau duduk secara berdempetan. Aku memilih sering berdiri, agar dapat hilir mudik dalam bus, sehingga dapat melewati dan mendekat ke tempat Ani. Bahagia rasanya jika dapat menyapa dan berdekatan dengannya. Penampilan peserta aku foto satu persatu, ada yang pura2 tertidur dan ada pula yang memperlihatkan wajah jelek agar dapat tampil beda. Ani mengeluarkan wajah ceria dan lucu ketika aku potret, dua telunjuk dia arahkan ke pipi sambil tersenyum. Berkali-kali aku jepretkan foto ke arah wajahnya. Dia tidak sadar kalau pemotretanku berkali-kali kepadanya begitu spesial, sementara kepada teman yang lain hanyalah kamuflase atau bahkan tidak pernah aku cetak.
Saat setengah perjalanan mulai membuat suasana agak sepi. Sebagian sudah agak terkantuk-kantuk mulai kelelahan selama perjalanan. Waktu itu, jalan tol Cipularang atau Purbalenyi belum di buat, jadi perjalanan agak lama melewati Kopo dan purwakarta. Suara bus mulai menderu-deru menemui tanjakan menuju bandung, laju kendaraan melambat. Tidak terdengar lagi suara riuh di dalam bus, semua jadi hening seperti kehabisan cerita dan bahan lawakan, semuanya jadi tampak dengan wajah serius, beberapa orang ada juga yang membawa pemutar music sehingga asyik sendiri mendengar lagu kesukaannya, lewat speaker kecil yang terhubung kabel di telinga, lagu terpavorit ketika itu berjudul “Yogyakarta”, dinyanyikan oleh Katon Bagaskara. Hujan menyambut kami dalam perjalanan di pegunungan, pandangan terhalang oleh embun yang menempel di kaca bus, hanya pandangan depan yang terlihat jelas, itupun pandangan terbatas hanyalah lampu belakang mobil di depan dan cahaya terang mobil berlawanan arah yang nampak bergerak cepat.

Tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan keras, bus mengalami kecelakaan oleng ke samping kiri menghindari sebuah truk berhenti mendadak di depan, tapi bagian kanannya tetap menyerempet bak kayu truk yang berhenti tiba-tiba itu karena salah satu bannya pecah. Kami semua merasakan terlempar ke sebelah kanan, tapi peristiwa itu berlanjut karena mobil terperosok ke parit sebelah kiri jalan. Seperti sebuah “jet coster” turun naik dalam hitungan detik. Beberapa orang terlempar dari tempat duduknya, pecahan kaca jendela berterbangan menerpa para penumpang. Terdengar jeritan histeris dan penyebutan nama tuhan hingga sampai akhirnya bus terhenti oleh bagian permukaan tanah yang menebing lebih tinggi.
Beberapa mahasiswa menjerit histeris, untungnya aku berada pada bagian belakang, sehingga agak aman kemudian spontan memberikan pertolongan secepatnya ke depan. Keadaan pani sekali, orang- orang berusaha menyelamatkan diri sendiri, aku berusaha membantu teman yang terlihat agak lemah. Pintu depan bus tampak rusak, sehingga orang-orang diperintahkan untuk melewati pintu belakang. Pecahan kaca berserakan di lantai menyulitkan proses evakuasi. Semua orang di perintahkan turun, ada yang baru terbangun dari tidurnya sehingga tampak kebingungan dan adapula yang berteriak-teriak mencari sepatunya yang copot ketika terjadi kecelakaan sehingga dia taku melewati pecahan kaca. Seorang penumpang yang bernama Gatot memegangi kepalanya karena kena benturan dan mulai mengeluarkan darah segar melewati pipi. Kami memprioritaskan menolongnya, wajahnya tampak syok ketika melihat tangannya berlumuran darah setelah memegang kepala.
Semua penumpang dan sopir bus turun. Seluruhnya dalam keadaan selamat, hanya luka ringan dikepala serta tangan dialami oleh beberapa orang. Semuanya saling membantu korban luka dan membersihkan serpihan kaca yang masih menempel di badan. Aku memperhatikan Ani, ternyata dia tidak mengalami luka apapun, dia juga ikut membantu teman-teman yang terluka dengan menyeka darah keluar dan menempel dirambut. Dalam keadaan mendapat musibah, para mahasiswa masih sempat bersenda gurau tentang kejadian kecelakaan tadi. “akhirnya tercapai juga, memang sudah lama bak truk itu ingin ditabrak oleh bapak sopir, ternyata baru sekarang niatnya kesampaian”. Komentar seperti itu membuat hiburan lucu yang mencairkan suasana. Pertolongan pertama untuk menutup luka dengan perban gulung diikatkan secara berlebihan sehingga mirip mumi, hal itu malah menjadi bahan tertawaan.
Kondisi bus masih dalam keadaan miring terjungkal, sebagian bannya terperosok ke dalam got dalam, bayak kaca yang pecah dan bagian depannya terlihat rusak parah. Pada bagian belakang bus ada tulisan sticker yang berisi “doa ibu menyertaiku”, malah dijadikan latar belakan tempat bergaya untuk dipotret dan juga dianggap oleh sebagian mahasiswa sebagai kata-kata keberuntungan yang membuatkami selamat.
Aku menanyakan keadaan Ani, “Alhamdulilah Mas, Aku tidak apa-apa”, demikian jawaban Ani. Padahal tanpa aku tanyakan pun dia terlihat segar bugar tanpa luka sedikit pun. Dalam keadaan itu Ani tampak tenang, tidak panik atau berkeluh kesah. Aku semakin menganggapnya sebagai seorang gadis dengan sosok yang tegar dalam menghadapi kemusibahan.
Semuanya harap berkumpul” ketua panitia rombongan memberikan perintah.
Sejumlah intruksi dan diskusi akhirnya diputuskan untuk membatalkan perjalanan, karena beberapa teman terluka dan harus secepatnya dibawa ke dokter untuk mendapatkan pengobatan. Karena tidak mungkin untuk meneruskan acara jika kepala dan tangan beberapa teman dalam kondisi diperban, terus kunjungan tetap dipaksakan.
Sekitar setengah jam lebih setelah kejadian, sopir bus berinisiatif memulangkan kami dengan bus umum antar kota tujuan Jakarta. Semua anggota rombongan dipecah dalam tiga kelompok, agar bisa muat di dalam bus umum dengan penumpang lain diluar rombongan kami.
Aku berusaha bergabung dengan kelompoknya Ani, kami hanya terangkut 10 orang pada kelompok yang kedua. Bus itu meluncur menuju terminal Kampung Rambutan, Jakarta. Beruntung mendapatkan kursi yang bersebelahan dengannya, sehingga kami dapat mengobrol dengan leluasa, khususnya tentang rencana kepulangan dan kejadian yang baru saja kami alami
Hatiku terasa berbunga-bunga “pucuk dicinta ulam tiba”, demikian kata pepatah. Ditambah kesediaannya aku antar pulang ke rumah dengan menyewa taksi dari terminal Kampung Rambutan.
Aku merasakan respon positif mulai darinya tentang hubungan kami, tapi aku memendam perasaan sedalam-dalamnya untuk memperlihatkan rasa suka. Selama di bus aku berusaha mengurangi pembicaraan, karena masih ada delapan orang teman yang aku takut bisa saja diam-diam sedang memperhatikan pembicaraan kami.
Di terminal Kampung Rambutan kami dengan mudah mendapatkan taksi, aku membantunya membawa barang-barang miliknya ke dalam taksi. Kemudian dalam perjalanan kami membicarakan tentang rute menuju rumahnya, selanjutnya pembicaraan berkembang lebih jauh tentang keadaan keluarganya.
Ani adalah anak ketiga dari empat bersaudara, kakak pertamanya lelaki, kemudian kakak keduanya perempuan dan adiknya perempuan juga. Saudaranya belum ada yang berumah tangga dan adiknya ikut dengan ibunya karena orang tua mereka ternyata telah bercerai. Ekspresi mukanya langsung tegang ketika menceritakan kalimat terakhir. Aku buru-buru menangkap sesuatu yang tidak enak dan mengalihkan pembicaraan dengan hal lain. Tindakanku itu membuat wajahnya menjadi lebih tenang seakan masalah yang baru saja diucapkan tidak pernah terjadi. 
Taksi terus meluncur dengan lancar menuju tempat tujuan, melewati Condet, terus ke Pasar Minggu dan ke Kalibata.
Sesampai dirumahnya nampak sepi. Aku membantunya membukakan pintu gerbang yang tidak terkunci. Di garasi mobil terparkir dua buah mobil mewah buatan Jepang dan Eropa. Setahuku dari cerita sewaktu di dalam taksi, sebelum menjadi anggota dewan perwakilan rakyat, ayahnya hanya menjadi seorang staff di pemerintahan daerah, tapi jika melihat rumahnya yang berisi mobil mewah, layaknya berpenghasilan seperti direktur sebuah bank atau perusahaan papan atas. Maka dari pembicaraan tadi sempat terlontar dari mulutnya, bahwa dia tidak suka dengan profesi ayahnya yang sekarang. Menurutnya politik penuh kebohongan, Tipu daya dan mengobral kata-kata. Entah kenapa, ada ketidak cocokan antara Ani dengan ayahnya. Begitu tentang perpisahan antara ayah dan ibunya, aku tidak ingin mengetahui lebih jauh.
Segelas teh hangat disuguhkan oleh pembantu rumahnya kepadaku. Aku melihat Ani nampak salah tingkah untuk berusaha menyuguhkan makanan ringan yang bisa untuk dihidangkan kepada tamunya. Kemudian ani masuk kamar agak lama yang membuatku agak jenuh menunggu. Dia keluar dari kamar dengan baju yang telah berganti.
Aku mulai pembicaraan tentang mata kuliah dan perilaku dosen-dosen dalam memberikan penilaian. Ada dosen yang galak juga sangat subjektif, bahkan cara berpakaian mahasiswa pun menjadi bahan pertimbangan dalam memberikan penilaian. Tapi aku ceritakan kepadanya bahwa secara umum semuanya obyektif berdasarkan prestasi yang telah kita capai.
Di luar rumah hujan turun cukup deras. Hal itu dapat membuatku berlama lama menjadi tamu. Aku menceritakan tentang perilaku teman-teman, namun hanya yang lucu-lucu, mulai dari yang tidak pernah mandi kalau berangkat kuliah hingga si Poppy yang terserempet kereta ketika pertama kali kuliah diminggu pertama, untungnya cuma babak belur malah sebagian menganggapnya gegar otak tapi tidak sampai membuatnya cacat. Makanya kami menjuluki “Poppy spoor” alias si Poppy kereta.
Aku minta izin untuk numpang sholat, Ani mengambilkan sajadah dan bergabung menjadi makmum. Indah sekali aku rasakan ketika sholat itu, menjadi imam dari seorang yang begitu aku idamkan.
Tidak terasa satu gelas teh telah aku habiskan dan kemudian Ani menawarkan lagi, dia pergi ke dalam membawa cangkir kosong kemudian mengeluarkan sendiri satu gelas teh lagi dari dalam dapur. Bagiku hal itu sebuah hal yang luar biasa, belum pernah kurasakan hal ini dalam kehidupan.
Mataku sesekali menatap photo keluarga berbingkai yang dicetak ukuran besar. Ani menjelaskan siapa saja nama-nama yang ada dalam photo itu. Kakak tertuanya bernama Bagas, kakak perempuannya bernama Indah dan adiknya Bernama Ida. Kakak tertuanya sedang melanjutkan kuliah S-2 hukum dan kakak perempuannya jurusan arsitektur tingkat akhir. Sementara Ida baru kelas dua sekolah menengah atas.
Waktu berjalan begitu cepat, keinginanku berlama-lama menjadi tidak dapat aku turuti. Hujan pun telah reda dan Ani pun mulai terlihat gelisah, karena tidak lama lagi salah satu anggota keluarganya pasti pulang. Dia takut akan menjadi bahan cela-celaan di keluarga karena kedatanganku sebagai tamu.
Tak lupa aku bertanya apakah boleh lain kali aku bertamu lagi kerumahnya, diapun tersenyum mengangguk tanda mempersilahkan. Aku diantar sampai gerbang dengan raut muka yang amat manis. Aku berjalan pelan sambil sesekali menengok ke belakang. Aku melihat Ani masih berdiri di dekat pintu gerbang sampai aku menjauh.
Kejadian itu pada hari kamis, sayangnya besok hari libur nasional yang membuatku menunggu beberapa hari lagi, untuk dapat menemuinya pada hari senin. Biar begitu, pengalaman pada hari itu membuatku melayang jauh tinggi ke awan.
Perjalanan pulang yang begitu membahagiakan, mungkin ada orang yang menganggap aku gila karena tersenyum-senyum sendiri di dalam angkutan umum.
Aku tatap mentari senja yang merah merona karena diselimuti awan, bersinar cerah membuat indah seluruh dunia. Hiruk pikuk suara knalpot dan klakson kendaraan di jalan, terdengar seperti bernyanyi di hati seseorang yang sedang dilanda asmara.


--Kelima—

Setelah mengalami hari libur selama tiga hari, senin itu aku bersemangat sekali berangkat ke kampus. Kuliah masuk pagi dan ingin mendapat kabar tentang teman-teman yang mengalami kecelakaan sewaktu ke Bandung, peristiwa itu menjadi cerita besar pada hari itu, mulai dari ruang kuliah hingga kantin. Para dosen pun menanyakan kronologi kejadian kecelakaan, akhirnya sebagian waktu kuliah hanya diisi oleh cerita tentang kecelakaan yang aku alami.
Selesai kuliah perhatianku tertuju untuk dapat bertemu dengan Ani. Setelah berkeliling sebentar disekitar fakultas aku mendapat informasi Ani berada di belakang gedung auditorium yang relatif sepi.
Ani aku dapatkan sedang duduk berdua disebuah bangku panjang yang menghadap halaman rumput luas di belakang gedung. Terlihat matanya memerah tertanda habis menangis. Aku tidak berani mendekat dalam situasi semacam ini, tapi sebagai seorang teman aku berusaha memberanikan diri mendekat.

boleh Aku temani ?” kataku dalam bahasa yang simpatik melihat kondisi.
--“silahkan”. Dia menjawab dengan berusaha tersenyum getir, pipi masih basah terlihat bekas air mata. Hanya kepalanya menengok sebentar, kemudian tertunduk dan memandang ke arah berlawanan.
Perasaanku menjadi salah tingkah untuk mendekatinya. Kepalaku jadi pusing memikirkan kata-kata yang harus keluar untuk memulai pembicaraan. Tapi aku terlanjur berada dekat dengannya. Permasalahan yang sedang dia alamipun aku tidak tahu, apakah dia sedang memiliki permasalahan dengan seseorang, masalah nilai akademis atau ada permasalahan lain yang jauh lebih rumit dari yang aku perkirakan.
Ikut terdiam berada di dekatnya, aku lakukan tindakan itu agar tidak menyinggung perasaannya. Aku hanya memandangi rumput, pepohonan dan tampak dari kejauhan gedung rektorat Universitas Indonesia yang menjulang tinggi. Semilir angin siang menemani keheningan suasana, semua diam tanpa kata-kata.

Aku menarik nafas dalam-dalam, untuk mengisi rongga yang sesak oleh sejuta pertanyaan di dalam dada.
--“Terima kasih mas sudah menemani”,
akhirnya keluar kata-kata dari mulut Ani yang membuatku lega.
Ada masalah apa nih, kalau boleh aku tahu?” dengan nada yang pelan aku berusaha menimpali.
--“ Ah..tidak, ini cuma masalah keluarga”. Jawabnya.
Dengan jawaban semacam itu bertambah lagi misteri yang menjadi pertanyaan di dalam kepalaku. Aku berusaha arif menyikapinya dan berusaha tidak ingin tahu lebih jauh.
Tak lama setelah itu, dalam bahasa yang pelan Ani menceritakan tentang kesedihan yang dialaminya. Hari ini dia membaca berita dari harian terkemuka, pemberitaan yang memalukan tentang ayahnya.
Di halaman depan Koran tersebut, menulis artikel tentang keterlibatan Wilson Wahid, ayahnya, dalam sebuah skandal besar praktek korupsi sebuah mega proyek pemerintah.
Berita itu sangat menghancurkan perasaannya, dia yakin konsekuensi hukum dari keterlibatan ayahnya tersebut. Perbuatan semacam ini sebenarnya sudah Ani ketahui sejak lama. Hal ini pula yang menjadi kerenggangan hubungan ayah dan mamanya. Proyek yang sudah berjalan beberapa tahun lalu itu penuh dengan intrik kotor yang melibatkan ayahnya, lewat upeti uang dan perempuan cantik.
--“mama selalu mengingatkan Mas, uang semacam itu tidak akan membuat barokah dan kebahagiaan”.
Demikian penuturan Ani dengan wajah merunduk.
-- “mama pernah bicara keras, bahwa uang haram pasti habis dimakan setan, itu pertengkaran terakhir sebelum mama pisah rumah dengan ayah” lanjut Ani menjelaskan.

Mamanya pernah marah besar, ketika ayahnya tidak dapat menjelaskan satu kardus uang yang cuma diikat tali plastik, layaknya seperti bungkusan baju bekas, berisi tumpukan uang rupiah dan beberapa ikat dolar amerika.
Mamanya adalah seorang yang sangat setia pada prinsip kejujuran. Dia selalu mengajarkan kepada anaknya menjadi batu marmer yang putih. Caranya agar selalu bertahan untuk tidak tercemar kotoran, maka kita akan selalu ditempatkan diruang-ruang terhormat pada sebuah rumah.
“Seandainya kita selalu menjadi batu marmer, lewat nurani kejujuran, maka kita akan dijadikan untuk benda-benda yang sangat dicintai dan berkarya seni. Tapi jika kita cuma pasrah sebagai batu kali, maka kegunaannya hanya sekedar untuk menguruk bagian bawah permukaan jalan yang lembek”. Demikian pesan mama yang selalu diingatnya.
--“Aku sebenarnya ingin menjerit Mas” tapi apalah daya aku hanyalah seorang anak dari tokoh yang menjadi pejabat tinggi seperti ayah”.
--“kalau sudah begini aku bisa berbuat apa?” dia bertanya sendiri dengan kemarahan.
--“Tinggal menunggu nasib sebagai anak seorang koruptor yang sedang menuju ruang pengadilan”. Lanjutnya.

--“Aku bingung seandainya nanti terjadi apa-apa kepada ayah, nanti kalau rumahku di sita oleh negara, kalau ayah dipenjara dan mama tidak bersama kami, kuliahku bagaimana?”. intonasi suara Ani mengeras, ditujukan kepadaku sambil menangis.

Aku biarkan Ani menumpahkan segala isi hatinya, Aku berharap pembicaraan ini dapat mengurangi tekanan yang sedang dihadapinya. Ani menyambung tangisnya lagi sampai beberapa menit.

Beberapa orang teman yang lewat aku kasih tanda-tanda untuk menjauh. Mereka rata-rata malah tersenyum curiga, melihat peristiwa yang terjadi dan keberadaanku di dekat Ani. Untungnya dunia pergaulan kampus memaklumi kejadian semacam ini. Permaslahan yang biasanya terjadi adalah masalah asmara, masalah akademis dan konflik antar mahasiswa, mereka tidak ada yang tahu, bahwa yang sedang terjadi pada Ani ini adalah masalah khusus, di luar kebiasaan yang terjadi pada pergaulan kampus.

Lebih dari satu jam aku menemani Ani dalam kesedihan, tidak khotbah dan nasihat aku berikan. Hanya ungkapan bisu dalam kesabaran, sepertinya dia pahami lebih dari cukup
Terdengar rasanya perutku mulai keroncongan, aku menawarkan Ani untuk ku ajak makan siang bersama, tapi dia menolaknya, hal itu sangat aku mengerti dalam suasana seperti itu. Aku tetap berusaha untuk menemani walau perutku terasa lapar sekali.
--“Terima kasih ya mas, sudah menemani…” dia berkata dalam senyum getir.
Kamu silahkan makan deh Mas, aku ingin pulang.

Aku menawarkan diri untuk mengantarnya tapi dia tolak secara halus.
Dia rapikan tas dan penampilannya lalu dia beranjak dari tempat duduk, berusaha tersenyum sejenak kemudian beranjak cepat, pergi menjauh dari pandanganku. Aku ikuti langkahnya dengan pandangan terdiam, seakan aku seakan menjadi patung yang sedang merasa kehilangan.

Nafsu makanku jadi hilang, suara riuh kantin yang begitu ramai tidak menarik minatku untuk bergabung bersama teman-teman yang lain.
Saat itu di kantin, sedang ramainya pembicaraan rencana aksi demonstrasi mahasiswa, menentang rezim orde baru untuk menumbangkan presiden soeharto.

--“Ikutan dong, anak-anak senat mau demo reformasi ke Gedung DPR/MPR nih”, demikian ajak Poppy mantan sekretarisku di kepanitiaan.
Rasanya aku tidak berminat, untuk ikut membicarakan rencana aksi demonstrasi mahasiswa, padahal biasanya segala macam kegiatan mahasiswa selalu ikuti.

--keenam--
Beberapa hari aku tidak melihat kehadiran Ani dikampus, entah dia tidak masuk kuliah atau aku tidak pernah mendapatkan waktu yang tepat hingga dapat bertemu dengannya. Beberapa kali ku telephon ke rumahnya tidak ada yang mengangkat, aku memaklumi kedaan dia dan keluarganya. Kampus terasa begitu hampa bagiku, beberapa teman yang mengajakku bergabung dalam beberapa kegiatan ku tolak. Hanya Teddy temanku yang kuterima ajakannya. Dia mengajakku datang dalam sebuah kegiatan “press camp”, sebuah kegiatan pelatihan jurnalistik untuk majalah kampus, dalam rangka menggembleng para mahasiswa yang mau bergabung, dalam majalah “Suara Mahasiswa” milik senat mahasiswa.

Kegiatan itu berlangsung beberapa hari disebuah gedung pusat kegiatan mahasiswa di dalam kampus. Aku hanaya hadir menemani panitia tanpa partisipasi apa-apa. Sekedar menemani mengobrol dan bergadang sampai pagi. Disela-sela waktu senggang, aku mencurahkan perasaan hatiku tentang Ani kepada Teddy, dia memberikan dorongan dengan antusias, tentang usaha yang sedang aku lakukan. Kemudian aku biarkan Fera, Reny, Arya dan ihsan bergabung dalam pembicaraan. Mereka bersemangat bersemangat sekali untuk saling mendukung agar aku sukses mendekati Ani, Triani Widyasari Louise.
Selesai acara pelatihan jurnalistik dengan Teddy, aku pulang ke rumah.

Sore hari, aku menonton pemberitaan di televisi tentang penembakan mahasiswa Universitas Trisakti. Adegan tentara angkatan darat dan brimob menembaki mahasiswa, dengan senjata laras panjang ke arah Kampus Trisakti, dari jembatan jalan layang Grogol yang berada di seberang kampus itu membuatku marah.
Anjing, setan, pembunuh.!!!” Aku berteriak-teriak menyumpahi kelakuan tentara kepada mahasiswa.
 Dadaku terasa sesak, aku bolak-balik keluar masuk ruangan televisi sambil mengomel sendirian. Keluargaku tampak keheranan sekali melihat kelakuanku.

Tak tahan rasanya gemuruh di dalam dada, aku keluar dari dalam rumah. Kulihat bulan purnama menampakkan warna kuning dengan cincin berwarna merah, langit gelap setengah mendung. Sebagaimana cerita nenek seaktu aku masih kecil tentang sinar bulan yang menjadi petanda bencana, aku yakin sekali akan terjadinya sebuah bencana besar. Ku ucapkan kata-kata itu berulang kali kepada semua orang yang berada di rumah, sepertinya semua orang tidak paham apa yang sedang aku maksud.

--ketujuh--
Keesokan harinya aku ingin kembali ke kampus, seluruh jalan raya menjadi begitu sepi. Aku berusaha menelphon Ani melalui telephon umum koin, tapi semua saluran telephon di Jakarta terputus, sepertinya ada sesuatu usaha yang sedang ditutup-tutupi. Sesuatu keadaan yang sangat buruk sedang terjadi.
Kuhidupkan motor Honda Bebek Astrea secepatnya untuk pergi ke kampus, aku menangkap aroma kemarahan orang-orang yang berada di jalan. Semua toko-toko tutup, jalan tol lingkar luar Jakarta, TB Simatupang tidak ada penunggu tiketnya, jalan tol begitu sepi dari biasanya sehingga motorpun dapat lalu lalang masuk ke dalam tol tanpa membayar. Kularikan motor secepatnya dengan bebas sampai putaran gas habis melenggang menuju Depok.

Kemarahan masyarakat serentak semakin menjadi-jadi di seluruh Jakarta. Masyarakat mulai marah dengan membakar ban bekas di jalanan, mendukung aksi mahasiswa yang memprotes insiden trisakti. Siaran televisi swasta dalam liputan langsung di lapangan membuat masyarakat jadi terpancing emosinya secara massal.
Sesampai di kampus Depok aku lihat begitu banyak mahasiswa berkumpul untuk bergerak menuju gedung DPR/MPR RI, memprotes keadaan yang terjadi. Biasanya dalam sejarah gerakan demonstrasi mahasiswa di Indonesia, jika mahasiswa universitas Indonesia sudah turun secara serentak, maka dijamin rejim akan tumbang. Menggerakan mahasiswa Universitas Indonesia sungguh sangat sulit sekali, mereka biasanya dididik untuk kritis dalam bertindak dan tidak mau menjadi pion dalam permainan catur politik. Ribuan mahasiswa bergerak dengan kendaraan umum, motor dan bus kampus menuju gedung parlemen, bergabung dalam sebuah gerakan reformasi menuntut presiden Suharto turun. Amin Rais tampil sebagai gerbong pemimpin pada peristiwa itu.

Jakarta langsung membara dalam hitungan jam, banyak mobil, motor dan gedung-gedung perdagangan terbakar. Api membumbung tinggi membuat langit berwarna kehitamanan akibat aksi bakar-bakaran. Implikasikasinya adalah etnis cina yang menguasi sektor perdagangan sangat dirugikan, padahal akibat kroni-kroni presiden Suharto dari etnis cina seperti Sudono Salim dan kawan-kawan dikenal sebagai konglomerat hitam yang menyebabkan ketimpangan sosial, akibatnya semua etnis cina secara keseluruhan kena getahnya.

Harmoko, sebagai ketua MPR dan kawan-kawannya dari parlemen, sebelumnya dikenal sebagai orang yang sangat menjilat kepada presiden Suharto di masa kepemimpinannya, dengan kalimat terkenalnya, “sesuai petunjuk bapak presiden”, tiba-tiba berkhianat untuk meraih simpati mahasiswa menyuruh Suharto turun dari jabatannya sebagai presiden, padahal sebelumnya parlemenlah yang secara bulat mengangkat dan meminta Suharto kembali menjadi presiden walau sudah menjabat tiga puluh tahun.

TNI angkatan darat yang menjadi alat politik Suharto menjadi pasukan yang sangat dibenci oleh masyarakat ketika itu. Mereka tidak berani tampil sendirian di tempat umum dengan seragam lengkap tentara, hal ini bisa menyebabkan amukan masyarakat yang memukulinya. Hanya dengan mobil tank dan panser mereka berusaha mengendalikan kerusuhan di Jakarta. Mayor Jenderal Syafrie Samsudin, sebagai Panglima Kodam Jaya berusaha habis-habisan menurunkan pasukan tapi Jakarta tetap membara.

Pasukan Marinir TNI Angkatan Laut tampil membantu pengamanan dan mendapat sambutan positif dari masyarakat dan mahasiswa. Pasukan marinir ini dianggap bukan menjadi bagian dari rejim Suharto. Massa yang sedang mengamuk lebih menurut jika dihalau oleh pasukan ini, sebaliknya akan melakukan perlawanan jika dihalau oleh pasukan lain. Regu kecil berjumlah sekitar lima orang bersenjata lengkap jalan kaki di setiap jalanan Jakarta sambil menembakan senjata ke udara, mereka menyuruh masyarakat bubar dari kerumunan yang dianggap membahayakan.

Suharto sebagai presiden merasa dikhianati habis-habisan, dia berusaha bermanuver dengan janji resufle cabinet yang ditolak oleh kubu reformasi, hanya kepada Nurcholis Majid, seorang intelektual muslim, Suharto mau mendapat masukan tulus bahwa reformasi artinya dia harus turun sebagai presiden, hal itu selama ini yang Suharto tidak mengerti karena dikelilingi oleh anak buahnya para pencari muka.

Suasana terahir Jakarta begitu tegang, ribuan mahasiswa telah menduduki gedung parlemen bergerombol hingga ke atap gedung, dibagian depannya dua kubu pasukan yang pro mahasiswa dan ingin membebaskan gedung parlemen dari mahasiswa, telah siaga penuh dengan seenjata berat dan peluru tajam. Gorong-gorong aluran air besar di depan gedung parlemen telah berisi pasukan yang siap perang untuk saling menyerbu. Kerusuhan lokal dan penjarahan terus terjadi di seantero Jakarta. Gedung-gedung pertokoanseperti Mall Pondok Indah dijaga ketat oleh pasukan marinir bersenjatakan senapan mesin yang sanggup meluluh lantakan sebuah mobil hingga mesin-mesinnya.
Di kamar mayat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, ratusan mayat berdatangan dalam bentuk bangkai gosong karena diambil dari gedung-gedung yang terbakar. Aku menyempatkan diri masuk ke kamar mayat dengan Hidayat dan Aisyah, karena rumah sakit itu menempel dengan kampus Salemba. Aku langsung muntah ketika baru saja melewati kuridor yang berisi mayat terbakar digeletakan di lantai, padahal kaus tebal sudah aku gunakan untuk menutup hidung, tapi bau busuk itu dapat menembus masuk secara menyengat.

Abu Bakar Basri, seorang konglomerat memberikan dukungan materi ratusan juta rupiah untuk dijadikan biaya logistik kepada mahasiswa yang ada di gedung parlemen. Uang ratusan juta itu dibagikan kepada kelompok-kelompok mahasiswa sehingga dapat bertahan di gedung parlemen.
Siang malam aku kumpul bersama teman-teman sehingga mengalihkan perhatianku kepada Ani. Beberapa kali setelah tidak berhasil mengontaknya melalui telephon membuatku putus asa, keinginanku juga untuk datang ke rumahnya selalu gagal oleh keadaan yang aku anggap jauh lebih penting. Aku menganggap jalan masih panjang untuk dapat menggapai Ani.

Ahirnya presiden Suharto tumbang dan digantikan BJ Habibie, kami sorak sorai kegirangan, sebuah era baru idaman kami untuk Indonesia yang lebih demokratis ahirnya tercapai juga. Kami berpelukan kegirangan dan aksi yang dilakukan di gedung DPR/MPR RI membubarkan diri perlahan-lahan. Sampah-sampah berserakan di gedung DPR/MPR RI dan perasaan lega hinggap disemua hati mahasiswa.
Aku pulang ke rumah untuk mengabarkan kegiatanku kepada keluarga. Kampus libur selama dua minggu, kesibukanku beralih pada kegiatan di rumah. Keadaan ekonomi masyarakat begitu sulit, membuat aku malu meminta uang kepada orang tua dan tidak dapat aktif pergi ke kampus, rumah teman, termasuk berkunjung ke rumah Ani. Beberapa kali aku telephon juga tidak ada yang mengangkat.

--Kedelapan—
Aku kembali ke kampus, suasananya relatif tidak ramai seperti biasanya. Pasca reformasi kegiatan kuliah agak terganggu membuat mahasiswa dan dosen menjdi tidak konsentrasi dalam proses belajar mengajar. Di gerbang kampus aku hanya bertegur sapa dengan satpam dan para pedagang makanan. Di bagian lobby bangunan aku melihat beberapa teman yang segera aku hampiri.

Wajah Teddy dan Fera tampak muram memandangku, aku berusaha tampil biasa karena tidak tahu permasalahan, mereka menanyakan keadaanku apakah mengetahui sebuah berita penting. Mereka mengajakku melihat berita penting di papan pengumuman yang berada di dekatnya agar aku membacanya.

TELAH MENINGGAL DUNIA
TRIANI WIRYASARI LOUISE
20 MEI 1998
DIMAKAMKAN DI PEMAKAMAN KELUARGA DI PALEMBANG

“Oh Tuhan…” petir serasa menyambar kepalaku, napas dan jantungku serasa berhenti, kaki bergetar serasa ingin ambruk namun berusaha aku bertahan tetap berdiri. Aku menarik napas dalam-dalam rasanya ingin menangis, tapi aku berusaha tegar di depan kawan-kawan, rasanya tidaak percaya sama sekali hal ini telah terjadi. Langsung aku berlari menjauh, kuhidupkan motor langsung melesat dengan kecepatan tinggi, tujuanku hanya dating secepatnya ke rumah Ani.

Sepanjang jalan dari Depok menuju Kalibata aku berteriak-teriak dan menangis sambil mengenakan helm tertutup. Semua lampu merah aku terobos tanpa rasa takut, tak ada keendaraan lain lebih cepat dari motorku yang melaju gila-gilaan. Satu gang kira-kira seratus meter sebelum rumahnya motor aku jalankan pelan-pelan. Helm aku buka untuk menyeka sisa air mata dan aku berhenti tepat di depan pintu garasi.
Rumah tampak sepi, hanya sisa beberapa karangan bunga yang mulai mongering tersisa. Setelah mengucapkan salam aku langsung masuk memberanikan diri. Tinggalah hanya seorang pembantu rumah yang dating menyambutku.
Mbak, saya temannya Ani”, demikian aku memperkenalkan diri.
--“O iya mas silakan masuk” sambutnya dengan akrab, karena wanita ini pernah bertemu dengan aku sebelumnya.

Aku ingin tahu cerita lebih jauh berita tentang kematian Ani. Sang pembantu perempuan itu mengatakan penyebab kematian Ani, karena kecelakaan di jalan tol Jagorawi akibat mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Saat itu dia mengemudikan mobil sendiri tanpa pamit dengan keluarga, entah untuk urusan apa, hingga polisi datang memberikan kabar tentang kecelakaannya. Semua anggota keluarga sejak pemakamannya dua hari yang lalu belum kembali dari Palembang.

Aku terus berusaha tegar selama mendengarkan cerita dari pembantu rumah itu. Hati sakit serasa diiris-iris. Kami hanya berdua saja hingga beberapa kerabat keluarga itu yang tidak aku kenal datang. Selanjutnya aku pamit mohon diri kepada semua orang.

Motor aku jalankan pelan-pelan dalam kesedihan yang amat sangat. Hujan mengguyur selama perjalanan menuju pulang ke rumah menambah kesedihanku. Aku terus melaju tanpa menghiraukan lebatnya hujan. Langit seperti ikut menangis merasakan perasaan hatiku, sesekali aku berteriak-teriak menyebut nama tuhan untuk mengeluarkan isi hati.
Entahlah hikmah apa yang sedang tuhan ujikan kepadaku. Saat itu, dalam kepasrahan aku merasa diperlakukan sangat tidak adil oleh tuhan. Mungkin ini adalah sebuah rahasia besar dan perjalanan rohani kehidupanku, mungkin tuhan telah memberikan sesuatu hikmah terbaik buatku dalam sebuah penderitaan yang berat ini. Aku terus melaju pulang ke rumah dengan perasaan gontai tanpa harapan.

Aku langsung masuk ke kamar merebahkan diri tanpa mandi dan buka sepatu. Ibuku langsung menangkap sesuatu yang tidak beres terhadapku. Aku menceritakan kejaian yang baru saja aku alami. Dia berusaha menenangkan dengan kata-kata bijaksana bahwa itu bukan jodoh. Aku sadar sambil berusaha menghibur diri bahwa hal ini terjadi karena kami memang belum berjodoh walau sebagai teman.
Malam datang menjadi saat yang menakutkan bagi perasaanku. Aku membayangkan tubuh Ani remuk, mengerang-erang kesakitan ketika kecelakaan terjadi dan sangat disesalkan kenapa aku tidak berada di dekatnya, pada saat-saat terahir ketika dia sekarat kesakitan serta hembusan nafasnya berahir.

Aku menyesal, kenapa saat dia mendapat kesulitan keluarga aku tidak sempat meluangkan waktu untuk datang menghiburnya sebagai teman. Mengapa aku tidak dapat hadir di pemakamannya untuk menyampaikan salam perpisahan sebelum tanah menutupi seluruh tubuhnya. Entah kenapa aku tidak pernah diberi kesempatan untuk itu semua.
Kilas balik pertemuanku dan kisah indah yang kami lewati terbayang dengan jelas menghantui khayalanku, kisah tentang secangkir teh tambahan yang Ani hidangkan dengan penuh suka cita dan kisah pandangan mata berbinar mendengar cerita perjalananku. Kini semuanya tinggalah kesedihan yang aku rasakan. Semuanya kini tinggalah kenangan.

Malam itu adalah malam penyiksaan yang menghancurkan perasaan. Aku tidur di lantai sambil menangis kecil sendirian. Jam menunjukan pukul satu dini hari mataku belum juga terpejam. Dadaku begitu sesak, perasaanku begitu sedih.
Aku ambil air wudhu untuk bersuci, shalat malam dan aku baca seribu doa-doa buatnya. Mungkin hanya doa yang dapat aku lakukan untuk mengkomunikasikan hubunganku kepadanya. Semoga dia di alam baka sana mengerti dan menikmati doa-doa yang aku bacakan. Semoga dia di alam sana mendapat kedamaian dan mahligai keagungan dari Sang penciptanya.
Aku ambil selembar kertas putih untuk menulis puisi guna mengungkapkan semua perasaanku:


SELAMAT JALAN ANI, 
TRIANI WIRYASARI LOUISE

Semoga
Kau damai di haribaan Tuhan.

Semoga 
kau selalu tersenyum ceria 
menikmati hari ahirmu.

Seandainya Aku tahu kata-kata terahirmu, 
“Mas aku ingin pulang”,
adalah salam perpisahanmu.

Maka ingin aku peluk erat,
dan aku akan selalu 
berusaha melindungi keselamatanmu.

Jutaan penyesalan menyertaiku

ketika kau menjerit sekarat,
dalam jepitan besi dan pecahan kaca.

Tapi Aku entah berada di mana.

Jutaan penyesalan menyertaiku
Tak berada di sampingmu,
ketika kau sekarat dalam luka, 
dalam jerit dan kehampaan

Tapi kini, 
semua itu sudah terjadi atas kehendakNya.

Selamat jalan Ani, 
Triani Wiryasari Louise.

Terima kasih
telah menjadi teman spesialku.

Berjuta bunga-bunga cinta aku rasakan

walau hanya sejenak berada di dekatmu.

Keberadaanmu di dunia 
telah menghiburku.

Semua menjadi begitu indah, 
semua menjadi begitu membahagiakan.

Kau telah membuat aku melayang dalam rasa cinta,
 Walau saat itu kau tidak berada di sampingku.

Kau telah membuatku bersemangat terhadap masa depan, 
Walau tidak akan sempat hidup bersamamu.

Biarlah kini,
aku bergulat dengan kehidupan dunia, 
dengan kesedihan 
dan dengan air mata yang mengering

Bahagia pernah sempat berjumpa denganmu

Selamat jalan teman.



--Jakarta, 22 Mei 1998—








*****End*****







Karya: SUWARDI HAGANI
Jakarta
2010