MATERI LATIHAN BERBALAS PANTUN
Pantun adalah sebuah mahakarya sastra Bahasa Indonesia, khususnya yang
berasal dari rumpun bahasa Melayu, seperti Melayu Sumatera, Melayu Kalimantan,
Minang, Betawi, Banjar dan lain-lain.
Dengan
menggunakan pantun, pembicaraan atau kalimat menjadi bernilai seni, sentuhannya
halus, penyampaiannya terasa sopan, pesannya begitu mengena, inti pembicaraan jadi mudah diingat bahkan
akan tercipta suasana ceria dan jenaka.
A. Pantun dapat digunakan dalam semua jenis
pembicaraan:
1.
Pantun dapat digunakan untuk memulai pembicaraan
serius dan kaku, seperti dalam memulai pembicaraan acara meminang seorang gadis.
2.
Dapat digunakan untuk menyelipi pembicaraan agar
pesan utama menjadi menarik, seperti
sambutan dalam memberikan sambutan, nasehat atau petuah.
3.
Pantun dapat digunakan sebagai inti pernyataan
sikap, ketika suatu masalah kita anggap mentok atau keputusan yang tidak dapat
diganggu gugat, seperti dalam sebuah negosiasi penting.
4.
Pantun dapat digunakan sebagai humor yang sangat
lucu dalam pembicaraan, jika artinya sangat jenaka.
5.
Pantun dapat digunakan sebagai kalimat
pertanyaan, seperti seorang pemuda yang sedang menanyakan status seorang gadis.
6.
Dan pantun dapat kita gunakan sebagai penutup
pembicaraan, sebagai sebuah ringkasan pembicaraan atau salam penutup yang
indah.
B. Berbalas Pantun
Pantun adalah karya sastra yang dapat dilombakan dalam
sebuah acara yang disebut “Berbalas Pantun”, sebuah model seperti layaknya
acara “Debat Publik” yang kini banyak di televisi, tapi dalam koridor yang sangat berbudaya,
yaitu bahasanya sopan, diawali dengan salam dan diahiri dengan permohonan maaf
serta salam penutup.
Tolok ukur kemenangan
sebuah acara berbalas pantun adalah kelompok yang paling indah
kata-katanya, nyambung konteks pantunnya dan membuat kelompok lawan pantun “gelagapan” untuk membalas pantun yang
kita pertanyakan. Kasarnya sampai habis stok pantun yang mereka miliki.
Sementara pihak kita siap dengan jawaban apapun yang mereka pertanyakan.
Dalam budaya melayu pada jaman dahulu, kemenangan
berbalas pantun akan mencerminkan
ketinggian intektual dan keluasan wawasan ilmu seseorang.
C. Trik membuat pantun dalam sepuluh detik.
1.
Keindahan sebuah pantun ditunjukan dengan
penggunaan kata-kata yang sopan dan bernilai positif, dengan idiom-idiom
(peristilahan) unsur alam semesta, seperti tumbuhan, binatang, bentang alam,
sungai, gunung, teluk, pantai, nama kota dan kosa kata lama yang enak didengar,
seperti aduhai, amboy, semampai,
berdendang,kakanda, adinda, dll. Lebih indah lagi jika nadanya enak didengar
ketika kita jadikan syair lagu melayu.
2.
Pikirkan isi dari sebuah kata-kata yang ingin
kita sampaikan, baru kita pikirkan sampirannya.
Contoh: dalam
hati kita ingin bicara, “kalau siang
begini pada jam kerja mata ngantuk inginnya ngopi”
Langsung
kata-kata yang ada dalam hati tersebut kita rangkai menjadi isi sebuah
pantun.
“kalau siang hari begini diwaktu jam kerja
Mata ngantuk inginnya ngopi”
Dalam watu sepuluh detik, kita menerawang
dalam hati kealam raya, apa saja yang bisa kita jadikan sampiran atau padanan
pendukung pantun yang berahiran “ja” dan “pi”,
maka unsur alam yang paling dekat dengan
“ja” adalah burung gereja atau meja, raja, jogja dan tentu saja untuk mencari kata
yang berahiran pi yang paling dekat adalah pipi atau topi, tepi, sapi.
Di tengah ada penggalan kata ada “ang” dan “tuk” kita cari idiomnya namun hanya
bersifat menambah bagus pantun yang dibuat.
Dalam waktu cepat, semua sifat unsur alam
itu bisa kita jadikan sampiran sebuah pantun:
Terbanglah tinggi burung gereja ->> a
Burung
pelatuk hinggap di topi ->>
b
Kalau
Siang begini diwaktu jam kerja ->> a
Mata
ngantuk inginnya ngopi ->> b
Jalan ke Rawa Bungo banyak turunan
Tumbuh pohon zaitun siap dipetik
Ayo kita memulai latihan
Membuat pantun dalam sepuluh
detik
a. Latihan berbalas pantun:
1.
Pantun
salam pembuka (berisi puja-puji) –ayo kita buat tergantung acaranya?...
2.
Pantun
perkenalan (perkenalkan nama dan asal-usul) –ayo
kita buat?..
3.
Pantun
pertanyaan (tema acara pantun) –ayo kita buat?...
4.
Pantun
jawaban (tema acara pantun) –ayo
kita buat/…
5.
Pantun
penutup (maaf dan salam) –ayo
kita buat?...
b.
Mengarahkan gaya sembari mencari inspirasi, dalam
bentuk:
1.
Gerak tangan.
2.
Gerak tubuh. Sedikit bergerak mengacu gaya tari melayu
3.
Kata-kata yang indah walau tanpa arti, tujuannya
dalam rangka mengulur waktu mencari inspirasi pembuatan/mengarang pantun di
dalam hati untuk menjawab lawan berbalas pantun. Seperti kata: aih... sayang disayang… dll.
Pohon
kemiri dekat stasiun cikini, naiklah kereta ke kota jangan pakai kutek.
Demikian
materi tentang berbalas pantun ini, ayolah kita langsung ke praktek.
wassalam
Suwardi Hagani
Alumni SMA 47 Jakarta,
jurusan bahasa
Sarjana Sastra Universitas
Indonesia.
Direktur Hagani Flora, bergerak dalam bidang kontraktor
pertamanan, penghijauan dan pembuatan hutan.
Tangerang Selatan, 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar