Senin, 10 Maret 2014

Berbalas Pantun

MATERI  LATIHAN BERBALAS PANTUN


Pantun adalah sebuah mahakarya sastra Bahasa Indonesia, khususnya yang berasal dari rumpun bahasa Melayu, seperti Melayu Sumatera, Melayu Kalimantan, Minang, Betawi,  Banjar dan lain-lain.

Dengan menggunakan pantun, pembicaraan atau  kalimat menjadi bernilai seni, sentuhannya halus, penyampaiannya terasa sopan, pesannya begitu mengena,  inti pembicaraan jadi mudah diingat bahkan akan tercipta suasana ceria dan jenaka.

A.      Pantun dapat digunakan dalam semua jenis pembicaraan:
1.       Pantun dapat digunakan untuk memulai pembicaraan serius dan kaku, seperti dalam memulai  pembicaraan acara meminang seorang gadis.
2.       Dapat digunakan untuk menyelipi pembicaraan agar pesan utama menjadi menarik, seperti  sambutan dalam memberikan sambutan, nasehat atau petuah.
3.       Pantun dapat digunakan sebagai inti pernyataan sikap, ketika suatu masalah kita anggap mentok atau keputusan yang tidak dapat diganggu gugat, seperti dalam sebuah negosiasi penting.
4.       Pantun dapat digunakan sebagai humor yang sangat lucu dalam pembicaraan, jika artinya sangat jenaka.
5.       Pantun dapat digunakan sebagai kalimat pertanyaan, seperti seorang pemuda yang sedang menanyakan status seorang gadis.
6.       Dan pantun dapat kita gunakan sebagai penutup pembicaraan, sebagai sebuah ringkasan pembicaraan atau salam penutup yang indah.

B.      Berbalas Pantun
Pantun adalah karya sastra yang dapat dilombakan dalam sebuah acara yang disebut “Berbalas Pantun”, sebuah model seperti layaknya acara “Debat Publik” yang kini banyak di televisi,  tapi dalam koridor yang sangat berbudaya, yaitu bahasanya sopan, diawali dengan salam dan diahiri dengan permohonan maaf serta salam penutup.

Tolok ukur kemenangan sebuah acara berbalas pantun adalah kelompok yang paling indah kata-katanya, nyambung konteks pantunnya dan membuat kelompok lawan pantun “gelagapan” untuk membalas pantun yang kita pertanyakan. Kasarnya sampai habis stok pantun yang mereka miliki. Sementara pihak kita siap dengan jawaban apapun yang mereka pertanyakan.

Dalam budaya melayu pada jaman dahulu, kemenangan berbalas pantun akan  mencerminkan ketinggian intektual dan keluasan wawasan ilmu seseorang.



C.      Trik membuat pantun dalam sepuluh detik.
1.       Keindahan sebuah pantun ditunjukan dengan penggunaan kata-kata yang sopan dan bernilai positif, dengan idiom-idiom (peristilahan) unsur alam semesta, seperti tumbuhan, binatang, bentang alam, sungai, gunung, teluk, pantai, nama kota dan kosa kata lama yang enak didengar, seperti aduhai, amboy, semampai, berdendang,kakanda, adinda, dll.  Lebih indah lagi jika nadanya enak didengar ketika kita jadikan syair lagu melayu.
2.       Pikirkan isi dari sebuah kata-kata yang ingin kita sampaikan, baru kita pikirkan sampirannya.
Contoh: dalam hati kita ingin bicara, “kalau siang begini pada jam kerja mata ngantuk inginnya ngopi”
Langsung  kata-kata yang ada dalam hati tersebut kita rangkai menjadi isi sebuah pantun.

“kalau siang hari begini diwaktu jam kerja
Mata ngantuk inginnya ngopi

Dalam watu sepuluh detik, kita menerawang dalam hati kealam raya, apa saja yang bisa kita jadikan sampiran atau padanan pendukung pantun yang berahiranja” danpi, maka unsur alam yang paling dekat  dengan “ja” adalah burung gereja  atau meja, raja, jogja dan tentu saja untuk mencari kata yang berahiran pi yang paling dekat adalah pipi atau topi, tepi, sapi.

Di tengah ada penggalan  kata  ada “ang” dan “tuk” kita cari idiomnya namun hanya bersifat menambah bagus pantun yang dibuat.

Dalam waktu cepat, semua sifat unsur alam itu bisa kita jadikan sampiran sebuah pantun:

Terbanglah tinggi burung gereja                              ->>         a
Burung pelatuk hinggap di topi                                 ->>           b

Kalau Siang begini diwaktu jam kerja                     ->>         a
Mata ngantuk inginnya ngopi                                   ->>           b


Jalan ke Rawa Bungo banyak turunan
Tumbuh pohon zaitun siap dipetik

Ayo kita memulai latihan
Membuat pantun dalam sepuluh detik

a. Latihan berbalas pantun:

1.       Pantun salam pembuka (berisi puja-puji)    –ayo kita buat tergantung acaranya?...
2.       Pantun perkenalan (perkenalkan nama dan asal-usul)   –ayo kita buat?..
3.       Pantun pertanyaan (tema acara pantun)    –ayo kita buat?...
4.       Pantun jawaban (tema acara pantun)    –ayo kita buat/…
5.       Pantun penutup (maaf dan salam)     –ayo kita buat?...

b.       Mengarahkan gaya sembari mencari inspirasi, dalam bentuk:
1.       Gerak tangan.
2.       Gerak tubuh. Sedikit bergerak mengacu gaya tari melayu
3.       Kata-kata yang indah walau tanpa arti, tujuannya dalam rangka mengulur waktu mencari inspirasi pembuatan/mengarang pantun di dalam hati untuk menjawab lawan berbalas pantun. Seperti kata: aih... sayang disayang… dll.


Pohon kemiri dekat stasiun cikini, naiklah kereta ke kota  jangan pakai kutek.
Demikian materi  tentang berbalas pantun ini, ayolah kita langsung ke praktek.

wassalam

Suwardi Hagani
Alumni SMA 47 Jakarta, jurusan bahasa
Sarjana Sastra Universitas Indonesia.
Direktur  Hagani Flora, bergerak dalam bidang kontraktor pertamanan, penghijauan dan pembuatan hutan.

Tangerang Selatan, 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar